Fast Fashion
Fast Fashion

Pengertian Fast Fashion Serta Dampak dan Solusinya

Diposting pada

Fast Fashion adalah istilah yang biasa digunakan oleh industri tekstil untuk menyebutkan konsep pergantian mode yang cepat dalam kurun waktu tertentu. Dari pengertian tersebut fast fashion kemudian berkembang menjadi fenomena global untuk tren fashion yang diproduksi secara massal dalam produk fashion siap pakai. Contoh, ketika musim panas tren mode akan didominasi dengan pakaian musim panas. Lalu ketika musim dingin mode akan berganti menjadi pakainan hangat. Kemudian setiap musim berganti, mode pakaian juga akan ikut berganti. Proses pergantian mode ini akan berganti setiap musim dan seterusnya.

"<yoastmark

Persoalan limbah bukanlah hal baru pada global. Faktanya, bunda pertiwi kita telah menghadapi imbas dari limbah ini berkali-kali tidak terhingga. apabila ada yang menganggap bahwa sampah di abad ke-21 ini merupakan yg terburuk, maka tidak terdapat salahnya bila kita melakukan bepergian beberapa saat lalu untuk mencari tahu bagaimana berasal muasal terbitnya limbah ini. akankah kita dapat menyelesaikan permasalahannya?

Dalam kesempatan ini, penulis akan membahas terkait dilema fast fashion. Tren mode pakaian yang terus berkiprah setiap waktunya, membawa produksi tekstil mengalami perkembangan yang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Hal ini, menghasilkan para konsumen dapat menerima akses cepat dan gampang, sebagai hasilnya kerap kali hal tersebut memicu peningkatan konsumen untuk membeli sandang baru, padahal barang tadi belum tentu dibutuhkan. Kenyataan seperti ini biasa disebut dengan “fast fashion”, fast fashion mengakibatkan para konsumen disuguhkan dengan produk baru terus-menerus, terlebih menggunakan akses media sosial dan toko daring yang telah jauh berkembang.

Istilah “fast fashion” menjadi banyak diperbincangkan pada percakapan seputar mode, keberlanjutan dan kesadaran lingkungan. Industri fast fashion ini tidak jarang mengabaikan pengaruh tidak baik terhadap lingkungan. Penggunaan warna-warna cerah, motif dan tekstur kain yang menjadi daya tarik industri mode diperoleh dari bahan kimia beracun yang dapat mengakibatkan pencemaran air dan beresiko terhadap kesehatan insan dan lingkungan. Orsola de castro, pendiri dari fashion revolution, sebuah gerakan mode yang adil dan beretika, menyampaikan bahwa sebagian besar dari produksi kostum yang didapatkan usaha fast fashion mengakibatkan usaha tersebut menjadi penyumbang limbah terbesar.

  • Karakteristik-karakteristik fast fashion:

"<yoastmark

Kita sebagai pengguna produk berbahan kain ini juga perlu mengetahui bagaimana suatu mode dikatakan “fast fashion”. Ciri-cirinya adalah produk fast fashion memiliki beberapa model yang selalu mengikuti tren terbaru dan berganti pada waktu yang singkat. Tidak hanya itu, umumnya industri ini diproduksi oleh negara asia dan negara berkembang, dimana pekerja digaji dengan sangat murah tanpa terdapat jaminan keselamatan kerja dan upah yang layak, salah satunya pada indonesia. Bahan baku yang dipakai juga kurang berkualitas sehingga tidak tahan lama . Hal tadi lantaran memperhitungkan harga jual dan pasar produksi.

  • Efek Fast Fashion

"<yoastmark

Dibalik harga jualnya yang murah, nyatanya terdapat harga sangat mahal yang harus dibayar oleh lingkungan menjadi impak dari fast fashion. Industri fast fashion bertanggung jawab terhadap kurang lebih 10% menurut total emisi karbon di dunia, bahkan diperkirakan akan mengalami peningkatan sampai 50% di tahun 2030.

Baca Juga :  Tutorial Hijab Segi Tiga Simple Tanpa Ciput Untuk Remaja Terbaru

Bahan sandang yang umumnya dipakai dalam industri fast fashion merupakan serat sintetis seperti poliester. Bahan-bahan ini sebagai sumber utama lantaran membutuhkan pengiriman yang murah buat diproduksi. Apabila dibandingkan, harga poliester hanya setengah dari harga kapas. Poliester diproduksi berdasarkan polietilena tereftalat (pet), yaitu homogen plastik yang berasal dari bahan bakar fosil. Poliester tidak bisa terurai secara biologi (non-biodegradable) dan melepaskan mikroplastik yang bisa menghambat ekosistem. Bahkan dilansir menurut laporan international union for conservation of nature (iucn) tahun 2017, diperkirakan bahwa 35% mikroplastik pada samudera dari berdasarkan proses pembersihan serat sintetis termasuk poliester. Mikroplastik ini bisa menyusup ke dalam rantai makanan dan mengakibatkan kandungan yang bahaya bagi kesehatan.

Tidak jauh dengan serat sintetis, katun turut berperan dalam kerusakan lingkungan. Hal ini ditimbulkan karena kebanyakan budidaya kapas pada seluruh dunia menggunakan pestisida non-organik yang mempunyai sifat berbahaya. Penggunaan pestisida bertujuan untuk mengendalikan hama alhasil petani dapat menghindari kerugian dan menaikkan efisiensi produksi. Diperkirakan bahwa menanam kapas membutuhkan 200.000 ton pestisida dan 8 juta ton pupuk sintetis setiap tahunnya. Penggunaan pestisida berbahaya ini bisa mengakibatkan berbagai dampak berbahaya, Mulai dari menurunkan kualitas tanah, menimbulkan risiko kesehatan pada petani, sampai mencemari perairan.

Industri fast fashion pula mempunyai ketergantungan yang tinggi terhadap air. Air dengan jumlah besar diperlukan saat proses mewarnai sampai mencuci pakaian. Katun membutuhkan air pada jumlah yang sangat besar lantaran katun adalah serat yang sangat halus. Dibutuhkan lebih kurang sebanyak 700 galon untuk memproduksi sebuah kemeja katun dan sebanyak 2000 galon air untuk memproduksi celana jeans. Secara global, industri ini menghabiskan kurang lebih 79 miliar liter air setiap tahunnya. Selanjutnya limbah air yang keluar dari produksi tidak diolah kembali bisa mencemari perairan dengan racun dan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan.

Baca Juga :  Cara Styling Gaya Rambut Undercut Skin dan Contohnya

Cepatnya pergantian tren pakaian serta kualitas pakaian fast fashion yang kurang baik menghasilkan konsumen seringkali berbelanja dan dengan mudahnya membuang pakaian yang sudah tidak terpakai. Sikap boros ini berkontribusi dalam penumpukan limbah tekstil, yang diperkirakan mencapai lebih kurang 92 juta ton setiap tahunnya. Limbah tekstil ini umumnya dibakar atau dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir dan hanya kurang dari 1% yang didaur ulang.

  • Slow Fashion

"<yoastmark

Berangkat dari masalah yang menjadi pengaruh dari fast fashion, timbul suatu antitesis yang disebut dengan “slow fashion”, kata ini diperkenalkan oleh kate fletcher. Selanjutnya di tahun 2017, sudah terbentuk sebuah rencana yang mengajak merek sandang di dunia untuk berkontribusi dalam mengubah sistem mereka dari berpatokan pada circular fashion system. Sistem ini mengedepankan konsep recyclable material pada proses desain dan produksi. Hingga saat ini telah terdapat 142 merek mode di dunia yang ikut bergabung pada program bertajuk 2020 circular fashion system commitment ini.

  • Solusi Fast Fashion

Dalam akhirnya, dibutuhkan kiprah penghasil dan konsumen untuk saling bekerja sama dalam mengatasi konflik yang disebabkan oleh fast fashion. Beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai konsumen di antaranya adalah:

"<yoastmark

  1. Mengurangi pembelian pakaian
  2. Membeli pakaian baru dari brand mode yang sustainable
  3. Membeli pakaian secondhand/thrift
  4. Menjual atau menyumbangkan pakaian yang sudah tidak digunakan
  5. Memperbaiki atau mendaur ulang pakaian yang rusak
  6. Mendukung kain ramah lingkungan
  7. Mencuci pakaian dengan bijak

Berhenti membeli fast fashion adalah hal yang tidak mudah, diperlukan usaha extra untuk mencapainya. Namun, dengan mengurangi pembelian dari brand tersebut, kita telah berkontribusi dalam kebaikan lingkungan, beberapa orang telah melakukannya dan tentu diri kita sendiri.

Baca Juga :  5 Tutorial Hijab Wisuda Simple Tapi Elegan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.